Kamis, 13 Februari 2014

Tafsir QS. Fathir 29-30 (Menghidupkan Quran dan Meng-Quran-kan Hidup)

Edisi kali ini bukan berisi cerita-cerita, tapi berisi pesan khusus yang disampaikan ayah siang tadi. Saat saya sedang membaca al-quran di masjid ba’da zuhur, tiba-tiba ayah menghampiri saya dan menjelaskan isi dan kandungan atau lebih tepatnya tafsir quran surat fathir ayat 29 dan 30. Sebenarnya, sebelum-sebelum ini belum pernah ayah menjelaskan / menafsirkan ayat khusus hanya kepada saya seorang, biasanya adik dan kakak saya juga ikut mendengarkan atau beliau sampaikan di rapat keluarga.

Selain itu, biasanya tulisan-tulisan tentang tafsir quran yang saya buat merupakan hasil dari ceramah ayah di masjid atau di pengajian kantor, tapi khusus untuk kali ini saya akan menulis hasil dari penjelasan ayah yang dijelaskan secara personal, man to man,  tentang tafsir surat fathir ayat 29-30, mumpung masih segar dari ingatan jadi segera saya tulis dan sebarkan.

Semoga penjelasan khusus dari ayah ke saya berikut ini dapat bermanfaat buat saya dan juga khusus saya tulis untuk sahabat sekalian, dengan harapan khusus juga agar kita semua bisa memetik nilai-nilai kebaikan yang dapat kita amalkan pada kehidupan sehari-hari. Penjelasan berikut saya kemas dengan bahasa sederhana, bahasa yang ringan, sebagaimana ayah menjelaskan ke saya karena saya juga bukan orang yang bisa bahasa arab, hehehe. Jadi, jangan menganggap tafsir itu bahasan yang berat ya sehingga kita tidak mau membaca. Kalau enggak percaya, baca aja tulisan ini dulu sampai selesai. :D. Itung-itung belajar tafsir quran dikit-dikit.

Kebahagiaan

Kali ini kita akan kupas tentang kebahagiaan, terutama kebahagiaan yang diajarkan oleh ayah kepada kami. Sebenarnya ini merupakan tema yang sederhana, ringan, dan mungkin tak perlu panjang kali lebar di kupas karena hampir semua orang, atau mungkin semua orang, sebenarnya sudah paham dan sudah mengalamai yang namanya bahagia. Tapi yang akan saya ulas disini adalah kebahagiaan dari persepektif yang unik, langka. Tidak banyak orang yang memahami makna kebahagiaan seperti yang akan kita ulas nanti. Justru dari sedikit orang itu lah kita belajar makna kebahagiaan yang dahsyat, yang tidak sekedar bahagia dari hati dan perasaan tapi kebahagiaan yang bernilai besar dan nilai tersebut tak bisa diberikan kecuali dari pemberian Sang Maha Pemberi. 

Teladan dalam Kebersihan

Tulisan kali ini sepertinya merupakan tema yang bobotnya paling ringan, mungkin juga termasuk sesuatu yang sering kita sepelekan. Bahkan mu gkin sudah tak perlu dalil lagi dalam menjelaskannya, karena begitu pahamnya kita akan hal ini. Apalagi, mayoritas kita sudah diajarkan sejak masih sekolah di taman kanak-kanak. Seperti kalimat berikut “an-nazhofatu minal iman”, pasti kita semua paham artinya dan tahu maksudnya. Iya, kebersihan merupakan sebagian dari iman. 

Tapi kenyataannya adalah, hal sepele ini merupakan sesuatu yang sangat berat dilakukan dan biasanya bagi orang laki-laki ini merukana hal ter-malas untuk dilakukan. Hehehe. Astaghfirullahal ‘adzim. 

Membiasakan Sedekah (Berbagi)

Kenal dengan Ust. Yusuf Mansur? Insyaallah kenal semua ya. kira-kira kalau disebut nama Ust tersebut yang terbayang di pikiran kita apa?, mudah-mudah an jawabannya tidak berbeda dengan saya, yaitu “Ustadz sedekah”. Hehehe. Sebutan tersebut biasanya sering dilontarkan oleh banyak orang karena keahlian ust muda tersebut dalam memotivasi pendengar / penonton nya agar lebih giat bersedekah. Bahkan, tidak jarang dalam ceramah-ceramah beliau penonton yang hadir pun “dipergok” untuk sedekah saat itu juga dengan barang berharga apapun yang dibawa nya. 

Bersedekah atau berinfak atau lebih entengnya lagi berbagi dengan sesama adalah hal yang sangat lazim dalam kehidupan manusia, kehidupan sosial. Bukan hanya karena itu perintah Allah yang disebutkan dalam Al-Quran, tapi memang berbagi adalah kunci suksesnya hidup bersosial. Dengan berbagi, kita banyak mendapatkan nilai-nilai dari kebakan hidup sosial, seperti misalnya: antara pembeli dan penerima jadi saling mengenal, dengan mengenal mereka bisa saling peduli, dengan peduli mereka bisa saling tolong menolong baik dibutuhkan atau tidak, bisa saling mengerti kondisi tetangga / saudara kita, dengan mengerti kondisi mereka dapat membuat kita tambah bersyukur atas nikmat-nikmat Nya. Tentunya, masih banyak nilai-nilai positif dalam kehidupan sosial yang bisa kita dapatkan dari berbagi tersebut. 

Quran dan Televisi

Fa alhamaha fujuroha wa taqwaha. Ayat di surat asy-syams tersebut pasti sudah kita hafal betul. Maknanya kurang lebih “maka kami ilhamkan pd manusia jalan kebaikan dan ketaqwaan”. Memang sudah qodratnya hidup manusia yang akan selalu menjumpai dua jalan ini, kebaikan dan keburukan. Tapi, kelanjutan ayat tersebut lah yang membuat kita harus berpikir setiap waktu, mau pilih apa?. Qod aflaha man zakkaha, wa qod khoba man dassaha. Sungguh beruntung orang yang mensucikan diri (baik), dan sungguh merugi orang yang mengotorinya (buruk). So, pilihan ada pada kita, mau jadi orang beruntung apa merugi?. Begitu juga dengan judul di atas, quran dan televisi, seperti hal nya 2 benda dalam ayat tersebut, yang satu membawa pada kebaikan, yang satu lagi keburukan. Walaupun kita tidak bisa lepas sepenuhnya dari televisi, paling tidak kita bisa minimalisir. Begitu juga dengan alquran, jika kita tidak bisa sepanjang waktu bercengkerama dengannya, paling tidak mendominasi aktivitas kita dengan al-quran. Quran dan tv, akan jadi tema kita kali ini. 

Setiap memasuki ramadhan, ada kebiasaan yang tidak pernah lepas dari keluarga kami dan tidak akan kami lupa. Yaitu kebiasaan tentang dua hal seperti judul di atas. Yaitu tentang al-quran dan televisi. Agar pembahasan seru, saya coba kupas yang televisi dahulu. 

Dalam tradisi keluarga kami, bila ramadhan sudah masuk maka televisi harus menghilang dari fungsi dan tempatnya. Hehehe. Artinya, sudah tidak ada lagi kata “nonton tv” entah apapun itu. Tepat setelah selesainya sidang istbat maka televisi sudah tidak bisa diharapkan untuk di tonton di rumah kami. Memang, ini adalah kebiasaan yang sudah dibangun dari dahulu oleh kedua orang tua kami agar selama ramadhan semua anggota keluarga bisa konsentrasi ibadah terutama tilawah alquran dan tidak disibukkan dengan menonton tv. 

Urusan Sholat Wajib, No. 1

Sebagaimana kita ketahui bahwa sholat wajib atau sholat fardhu yang lima waktu merupakan kewajiban kita sebagai ummat islam dan merupakan salah satu dari rukun islam yang 5, tepatnya urutan kedua setelah syahadat. Walaupun beberapa orang sering ‘mem-plesetin’ masalah urutan tersebut dengan cletukan “tenang aja bro, sholat kan no. 2”, ya iya lah, karena urutan pertama nya syahadat. Dengan dalih menyepelekan keutamaan / prioritas sholat wajib. Semoga guyonan tersebut tidak berimplikasi pada kenyataan apalagi hingga menjadi kebiasaan. Astaghfirullah. Semoga kita tidak memain-mainkan masalah rukun islam tersebut. 

Berbicara sholat wajib, sebenarnya tidak memerlukan dalil lagi karena sudah begitu banyak dalil baik al-quran maupun hadist, terlebih lagi hal itu sudah kita pelajari sejak SD dahulu. Karena memang begitu banyak ayat yang mengulang-ulang kalimat “...wa aqimus sholah...” yang bermakna “dan dirikan (kerjakan) lah sholat”, dsb. Tentunya, semua kita juga telah mengetahui dan memahami bahwa sholat wajib itu ada 5, dari mulai subuh, zuhur, asar, maghrib, dan isya, serta kita juga telah sangat memahami bahwa sholat wajib itu harus tepat waktu dan berjamaah di masjid, khususnya laki-laki. 

Lagi-lagi, tak perlu ber-dalil dalam menjelaskan hal ini karena kita semua telah paham dengan hal itu. Tapi, pertanyaan dasarnya adalah “sudah kah kita melaksanakan sholat wajib tepat waktu dan berjamaah di masjid?”. Hal ini lah yang menjadi masalah besar dan perlu kita diskusikan. Bukan masalah dalil nya, tapi bagaimana kenyataan dari teori / dalil tersebut. 

Menghidupkan (Malam) Qiyamullail

Qiyamullail atau juga disebut tahajjud, termasuk kata bahasa arab yang pasti tidak asing bagi kita. Saya yakin, walaupun kita bukan dari sekolah seperti SDIT, MTs, SMPIT, MAN, dsb, yang notabene nya mempelajari bahasa arab, pasti sudah tau apa maksud dari kata tersebut. Kurang lebih artinya sholat malam, lebih tepatnya sholat sunnah di antara waktu setelah sholat isya hingga sebelum subuh. Jadi, sholat tahajjud ini memang termasuk kategori sholat sunnah. Tapi bukan sembarang sunnah loh. 

Di dalam al-quran (noted ya), satu-satunya sholat sunnah yang disebutkan bahkan diperintahan dengan jelas dan tegas dalam beberapa ayat. Ini menandakan bahwa sholat sunnah ini benar-benar harus dijadikan prioritas. Prioritas dalam arti, jangan sampai tidak dikerjakan, kalau bisa. 

Kalau masalah penyebutan namanya, antara tahajjud dan qiyamullail, jangan diermasalahin ya. yang dipermasalahin itu yang tidak sholat hehehe. Kalau qiyamullail di ambil dari surat al-muzammil ayat 2 “qumillayla illa qolila”. Kalau tahajjud di ambil dari surat al isra ayat 79 “wa minallayli fa tahajjad bihi...”. kedua ayat tersebut lah yang menjadi andalan perintah sholat sunnah ini. Bahkan kedua ayat tersebut, dengan tegas dan jelas, allah menyuruh kita, memerintahkan kita dengan bahasa qum yang artinya “bangunlah” dan tahajjad yang artinya “lakukanlah tahajjud”. So, noted ya, perintah allah dengan tegas dan jelas. Jadi, sholat sunnah yang diperintahkan allah di dalam al-quran.